Flash Fiction: Mata | Hati Bening Asy Syahiidah
Agustus 08, 2020“You are not ugly, society is.”
Itu kata Ibu. Dan dia bohong. Aku memang jelek.
Sosok yang kulihat di kaca itu, aku membencinya. Semua orang membencinya. Ah, bukan, semua orang membenciku karena dia. Semua orang menjauhiku karena dia. Semua orang menghakimiku karena dia. Karena itu aku juga membencinya.
Mata. Hal yang pertama kali dilihat orang saat bertemu denganku. Semua orang bilang kedua mata itu jelek. Iya, memang jelek. Kecil dan ujungnya lancip. Mata itu berbeda. Mata itu tidak sama dengan mata orang lain. Mata itu aneh, asing. Katanya, mata seperti itu seharusnya tidak ada di tempat ini. Kalau aku lewat, orang-orang di sekolahku akan menarik pelipis mereka sampai matanya menyipit, lalu tertawa.
Aku menatap tajam kedua mata di depanku. Di mata itu, aku bisa melihat pantulan diriku… Yang sama persis dengan sosok jelek yang ada di cermin. Aku mengepalkan kedua tanganku erat-erat, kemudian memejamkan mata. Tiba-tiba saja semuanya terputar ulang. Wajah-wajah jijik, tatapan sinis, tawa-tawa kecil setiap aku lewat, suara-suara aneh yang keluar dari mulut mereka, yang katanya bagaimana seharusnya aku berbicara… Semuanya muncul kembali satu persatu di kepalaku, layaknya sebuah film.
Napasku terengah-engah, jantungku berdebar sangat cepat. Aku membuka mata dan sosok jelek yang membuat semua hal buruk terjadi, masih terlihat dengan jelas di depanku. Dadaku semakin sesak, pandanganku kabur dan mataku basah.
Aku menggoyangkan kepalan tanganku ke depan sekuat tenaga. Lalu cermin di depanku terpecah menjadi puluhan bagian.
***
Kutarik kedua sudut bibirku ke samping sebelum menekan tanda lingkaran di layar ponsel. Setelah terdengar suara jepretan, aku buru-buru membuka media sosial dan memposting foto yang barusan kuambil. Baru beberapa detik setelah aku mengunggah foto itu, notifikasi sudah memenuhi layar. Aku tersenyum tipis. Beberapa komentar juga mulai bermunculan.
Matamu cantik!
Senyumku melebar. Tentu saja. Sosok buruk rupa yang ada di cermin sudah tidak ada lagi. Aku membesarkan foto ke bagian mata yang indah, hasil karya dokter-dokter luar biasa. Mataku tidak lagi sipit. Mataku sama seperti mata semua orang. Mataku bukan mata orang asing lagi. Semua orang suka padaku, semua orang ingin berteman denganku. Termasuk dua puluh ribu pengikut media sosialku. Aku tidak jelek lagi.
Jariku terus bergerak, membaca pujian-pujian dari beberapa teman-temanku dan orang-orang yang tidak kukenal.
Kamu harus mencoba gaya fox eye!
Aku tertegun membacanya. Fox eye. Mata rubah. Aku mengernyitkan dahi, lalu mengetik di kolom pencarian. Ada ribuan postingan dengan tagar itu. Jariku memencet salah satu foto dengan santai, sebelum aku terkesiap.
Riasan mata lancip, jari-jari menarik pelipis ke belakang.
Menarik pelipis ke belakang.
Jantungku berdebar lebih cepat dan napasku gemetaran. Aku menggerakkan jariku untuk melihat postingan lainnya. Dan semua posenya sama, jari-jari menarik pelipis ke belakang.
Aku memencet kolom komentar, semuanya memuji rupa mereka. Semuanya bilang itu cantik. Cantik. Bukan jelek seperti yang semua orang katakan pada sosok di cermin bertahun-tahun lalu. Bukan aneh, bukan asing...
Tanganku mulai bergetar, aku mematikan ponsel dan melemparnya ke sofa. Tiba-tiba semua memori yang kualami hampir seumur hidup muncul kembali. Terbayang lagi wajah-wajah orang-orang di sekolah yang melakukan gestur yang sama dengan pose yang baru kulihat tadi.
Dia.
Bayangan yang kulihat setiap kali aku melihat cermin. Dia yang membuat orang-orang menindasku, dia yang membuat semua orang melakukan gestur itu sambil tertawa setiap kali melihatku.
Aku berlari ke kamar mandi. Kemudian memandang cermin lekat-lekat.
Dia sudah tidak ada. Yang kulihat di cermin hanya mata lebar, yang sama dengan mata orang-orang di sekitarku. Yang tidak membuatku terlihat asing dan aneh. Yang menurut mereka cantik dan membuat semuanya menyukaiku. Tapi sekarang semuanya menyukai mata milik Dia. Menarik pelipis itu cantik dan keren.
Tubuhku bergetar hebat. Semua kejadian yang sudah berusaha kupendam bertahun-tahun, muncul lagi di kepala. Sesaat kemudian aku bisa melihat Dia di cermin. Anak enam belas tahun yang menatapku tajam dengan mata sipitnya. Wajahnya penuh dengan rasa marah dan sedih.
Tiba-tiba kepalaku memutar suara yang tidak pernah terdengar lagi sejak aku menghancurkan sebuah cermin lima tahun lalu.
“You’re not ugly, society is.”

10 komentar
Bening, ini keren bangettt. So proud of you. Seumurmu udah bikin cerpen sedalam ini tuh luar biasa banget. Hebat. Lanjutkan yaa
BalasHapusAaaa, terimakasih Tante <3
HapusMasya Allah, keren banget Mbak Bening. Fiksi mininya detail dan sukaaa banget. Lanjutkan deh.
BalasHapusTerimakasiiih ^^
HapusCeritanya dalem banget flash fictionnya. Setelah saya baca akhirnya jadi bisa ambil hikmah dari cerita mbak Bening yang mendalam ini, bahwa kita itu harus selalu bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan kepada kita dan tidak perlu dengar kata orang apalagi kata2 yang akan membuat kita tersesat. Kereen deh pokoknya ceritanya. Lanjutkan ya mbak Bening.
BalasHapusBetul banget, terimakasih ^^
HapusHai, bening. Umur berapa sekarang? Salam kenal y
BalasHapusUmur 13, salam kenal juga ^^
HapusWow, Bening. Amazing. Lanjutkan, Anak Muda. Kami tunggu karya-karyamu berikutnya.
BalasHapusTerimakasih banyaaak!
Hapus