Solo, Malam.
Juni 14, 2021Lampu minyak tanah duduk di tikar
Remang, menolak beri sisa pendarnya
Bak paham takkan lagi jemari itu ada
tuk rawat tubuhnya meski sukar dibakar
Bayang hitam gerombolan insan di dinding
Gumamkan janji wakili yang lumpuh
Si jubah hitam menunggu bersimpuh
di samping laungan sunyi raga berbaring
Jarik di atas dada masih naik turun
Lambat. Ritmis. Tetap. Lebih lambat.
Ruh bersiap menemui yang sudah dekat
Dan mengalir lewat pipinya sebutir embun
Hembusan final dengan senyum terukir
Menggenggam si jubah hitam ke negeri lain
Persis saat hangatnya minyak ditelan angin
Nyanyi sinden terdengar, dihias isak di bibir
Hati Bening Asy-Syahiidah
Juni 2021

0 komentar