Flash Fiction: Imajinasi | Hati Bening Asy Syahiidah

Agustus 17, 2020






[Thais: Meditation by Jules Massenet start playing]



Imajinasi
(a flash fiction)


Empat sekop.


Aku melihat dua kartu di tanganku. Sembilan hati dan tiga bujur sangkar. Sial. Aku meletakkan kartu-kartu itu di atas karpet dengan perlahan, lalu tersenyum miring.


“Menang,” anak perempuan di depanku melemparkan satu kartunya yang tersisa. Bibirnya menyeringai lebar, matanya berbinar-binar. Joker hitam. 


Aku menaikkan alis. “Wow.”


“Kubereskan ya? Aku lelah,” katanya sambil meraih tumpukan kartu-kartu di depan kami dan mencampurnya dengan kartu yang ditumpuk rapi di pinggir.


“Kalaupun dilanjutkan, kamu pasti menang lagi,”


Dia tertawa kecil. “Aku akan ambil minum di dapur, tunggu sebentar.”


Kuanggukkan kepalaku beberapa kali, kemudian memandangi punggung kecilnya yang menghilang di balik pintu kamar. Aku mengalihkan pandangan ke arah jendela. Warna ungu dan jingga bercampur di langit, dihiasi awan-awan yang menutupi matahari. Aku bisa melihat kawanan burung yang membentuk huruf V berterbangan ke arah utara, lalu disusul dengan kawanan burung lainnya, kali ini tidak membentuk posisi apapun.


“Hei.”


Aku menoleh ke sumber suara, Dia berdiri di depan pintu dengan gelas di kedua tangannya. Aku memandang wajahnya dengan seksama, alisnya sedikit turun dan bibirnya mengerucut. Jauh berbeda dengan wajahnya saat keluar kamar beberapa menit yang lau. “Ada apa?”


Dia menghela napas panjang, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Setelah duduk bersila di depanku dan meletakkan kedua gelasnya di atas karpet, ia membuka mulut. “Ayah dan ibuku,”


Mendengar dua nama itu, aku langsung membulatkan bibir. “Oh.”


“Aku tidak mengerti, mereka terus memintaku ke psikiater, terapis, apalah namanya,” katanya. Tangan kanannya mengambil salah satu gelas dan mendekatkannya ke mulut. “Tidak ada yang salah denganku.”


Aku diam saja. Yang terdengar hanyalah suara tegukan air dari kerongkongannya. 


Tiba-tiba dia mendengus dan tertawa. “Teman imajinasi katanya. Kupikir, sebenarnya mereka berdua yang gila,”


Teman imajinasi. Aku pernah tidak sengaja mendengar kedua orangtuanya mengobrol tentang hal itu. Kata mereka, Dia sering berbicara dan tertawa sendiri. Tetapi Dia bersikeras bahwa temannya itu benar-benar ada. Aku sendiri belum pernah melihat teman lainnya itu, berarti Dia benar-benar hanya berimajinasi, kan?


“Ayah sudah membuat janji dengan psikiater besok pagi, sepertinya aku akan ke sana.” katanya, kali ini lebih tenang dan lembut. “Semoga kalau begitu mereka tidak akan berisik lagi.”


Aku tersenyum kecil. “Semoga beruntung,”


Hening.


Aku memandang ke arah jendela. Warna ungu dan jingga sudah mulai menghilang, berganti dengan gelapnya malam. Angin berhembus, membuat gorden bergoyang-goyang dan menciumi wajahku.


“Dingin ya?” katanya. Tanpa menunggu jawabanku, ia beranjak dan menutup jendela. Kemudian, ia mengambil gelas-gelas di karpet dan pergi meninggalkan kamar. Setelah pintu ditutup pun, mataku masih belum lepas dari benda kayu itu, sedikit berharap Dia akan berbalik karena menyadari bahwa ia melupakan sesuatu.


Aku belum minum setetes air pun.

***


Jendela terbuka lebar, aku bisa melihat birunya langit dan gumpalan-gumpalan awan putih di atas sana. Awan itu seperti kapas, dan kalau diperhatikan, mereka akan bergerak mengikuti arah angin. Aku belum pernah menyadarinya sampai sekarang. Aku meletakkan siku ke meja dan menyandarkan rahang di telapak tangan agar lebih nyaman. Sejak kemarin, aku terus mengintip langit dari jendela, seakan-akan hamparan luas itu memanggil.


Tiba-tiba angin berhembus ke arahku. Cukup kuat untuk menggerakkan beberapa kertas dan alat tulis yang ada di meja. Terdengar suara gedebuk. Aku menggerakkan kepala ke samping dan ke bawah. Puluhan kartu remi berceceran di karpet. Pasti karena angin. Aku turun dari kursi dan berlutut di atas karpet.


Jemariku mengambil salah satu kartu dan membaliknya. Joker hitam. Kartu yang mengakhiri permainan Dia dan aku setelah berjam-jam. Peraturan kami hanya satu: Yang menang mengocok kartunya. Dia pernah bilang kalau biasanya yang kalahlah yang kebagian mengocok kartu, tapi selalu dia yang mengocok kartunya. Aku tidak keberatan, karena sepertinya tanganku tidak selincah miliknya. Aku jadi ingin bermain kartu lagi, mungkin aku harus menunggu sampai Dia sudah kembali dari psikiater.


Aku tersenyum. Dia benar-benar ke psikiater pagi tadi.


Menurutku, itu bagus. Karena sepertinya dia memang berimajinasi. Aku tidak pernah melihat Dia bermain dengan orang lain selain aku. Bahkan dia pernah bercerita bahwa satu sekolah memusuhinya. Tanganku memungut kartu sembilan hati.


Tapi aku juga tidak pernah melihat dia berbicara sendiri, atau tertawa tanpa sebab seperti yang ayah dan ibunya katakan. Menurutku, itu aneh. Apakah dia melakukan hal-hal tersebut jika aku tidak bersamanya? Kapan? Kukira hanya aku yang selalu menemaninya. Enam bujur sangkar.


Aku melirik ke jam dinding. Sudah lebih dari tiga jam sejak Dia dan kedua orangtuanya meninggalkan rumah. Aku baru tahu kalau ke psikiater bisa selama ini. Apakah mereka bertiga mampir makan siang terlebih dahulu? Dua sekop.


Terdengar suara mobil berjalan dan diparkir. Pasti Dia. Spontan aku langsung melepaskan kartu-kartu di tanganku dan berdiri tegak di depan pintu yang tertutup, memasang senyum lebar dan mempersiapkan telinga untuk mendengar cerita darinya.


Pintu terbuka. Dia berdiri tepat di depanku.


“Hai,”


Kemudian senyumku memudar. Tidak ada jawaban, bahkan Dia melewatiku begitu saja, seakan-akan tidak ada aku di sini. Aku memutar badan. Dia memungut-mungut kartu remi dan meletakkannya di meja belajar tanpa bicara. Alisku merengut. Dia duduk di tempat tidurnya dan memijat kepalanya. Kemudian ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari tasnya. Aku memicingkan alis. Pil. Isinya pil.


Dia membuka tutup botol dan mengambil salah satu benda mungil itu, lalu mengambil botol plastik berisi air. 


“Apa itu?” tanyaku.


Tiba-tiba matanya menatap ke arahku dengan tajam. Ia menarik napas panjang. Gemetaran. Setelah memejamkan matanya, Dia menelan pil itu dengan bantuan air. Tidak lama kemudian ia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur.


Apa-apaan? Apa yang terjadi?


Aku menolehkan kepalaku ke kanan, melihat cermin berbentuk persegi yang digantung di dinding, lalu terkesiap. Wujudku berubah. Aku hampir transparan. Samar-samar, aku bisa melihat meja belajar dan jendela di tubuhku. Perlahan-lahan, meja belajar dan jendela itu semakin jelas.


Hilang. Aku menghilang.


Mataku terasa basah. Tetesan demi tetesan air melewati pipiku. Angin berhembus kencang, mengelus rambut dan telingaku. Setelah suara deruan yang keras, terdengar suara bisikan lembut. 


“Tugasmu sudah selesai, saatnya kembali.”
       


[Soft and slow violin plays]
--------

Hati Bening Asy-Syahiidah
August 17th, 2020


Aku nulis apa...
Omong-omong, selamat hari kemerdekaan!

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Most Popular