Flash Fiction: Kencan Terakhir

September 03, 2021

 

Di dalam diriku, hidup seekor kupu-kupu yang tinggal di dalam tulang rusuk. Kedua sayapnya naik-turun, seiring dengan kedua kakiku yang melompat di antara bebatuan. Rasa geli dari gerakannya membuat bibirku terkadang tertarik ke samping.

Seperti biasanya, kepakan kupu-kupu itu membentuk suara gelak tawa yang akrab. Pelan serupa bisikan, namun masih terdengar seperti nyanyian. Namun, hari ini suaranya terdengar lebih serak. Mungkin dia merasa gugup, karena aku hendak menemui sosok yang menjatuhkan dirinya ke dalam tubuhku ketika ia baru jadi kepompong. Tak pernah kukira ia akan tumbuh menjadi kupu-kupu raksasa seperti sekarang. Meski parau, tawa itu terdengar lebih sempurna saat ia menggaung di antara paru-paruku, lalu naik sampai ke benak. Siulan angin dari telinga pun ikut mengiringi senandung sang kupu-kupu yang kini sibuk berdansa.


Di belakang sebuah batu besar, aku melewati sebuah keluarga yang membawa keranjang penuh bunga lili putih yang wanginya semerbak. Aku mengernyitkan hidung. Kupu-kupu di dalam diriku tidak suka mengingat bunga itu. Sebelum ia merasa sedih, aku segera mendekatkan karangan mawar milikku ke hidung dan menghirupnya dalam-dalam. Sebelum aku sekolah ke luar pulau, sang kupu-kupu biasa mendapatkan harum mawar tiap aku memeluk orang yang akan kutemui. Biasanya itu akan membuatnya terbang kesana-kemari dengan rusuh, tapi sekarang ia malah mengakhiri tariannya dan bernostalgia.


Aku buru-buru menjauhkan karanganku dari hidung dan menggenggamnya erat. Meskipun perlahan, akhirnya kupu-kupu itu bergerak lagi. Ternyata eratnya genggamanku mengingatkan sel-sel kulitku akan jemari miliknya yang halus dan bagaimana aku melepasnya hari itu. Sialan. Aku berusaha untuk memusatkan kepalaku pada batu-batu yang kulalui dan berhitung. Satu, dua, tiga, empat, lima… Itu dia! Mataku berjumpa dengan miliknya.


Menyadari hal itu, kupu-kupu di dalam diriku langsung berputar-putar panik. Ia menabrak tulang rusuk, jantung dan paru-paru tanpa irama. Aku berjalan mendekat kepadanya, namun ternyata tiap langkahku memperbesar ukuran kupu-kupu di dalam diriku dan membuat dada terasa penuh. Kupu-kupu itu terus membengkak dan mulai keluar dari sangkar tulang rusuk. Masuk ke perut, bahu, kedua tangan, lalu turun ke paha.


Berat. Tubuhku bergetar hebat. Kupu-kupu itu sudah sampai di mata kaki saat aku tak lagi kuat berdiri dan jatuh berlutut. Bunga-bunga mawar jatuh berserakan di atas tanah. Aku mengangkat kepala dan mengeja nama kekasihku yang terukir indah di atas sebuah batu kokoh. Tempat yang tepat untuk bersandar selamanya, sesuatu yang tidak bisa kuberikan padanya selama ini. Karena bagian tubuh bawahku sudah penuh, kupu-kupu itu naik ke tenggorokan dan dengan cepat memenuhi isi tengkorak.


Aku meledak. Kupu-kupu raksasa itu mengalir deras lewat mata. Tanganku mencengkram dada yang nyeri, di mana tulang rusukku kini kosong tak berpenghuni.


September, 2021
Hati Bening Asy-Syahiidah

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Most Popular