Flash Fiction: Tetes | Hati Bening Asy-Syahiidah

Juli 04, 2021

Prompt words: Obsession, Sea

Air, air di mana-mana…


Sajak buatan Samuel Coleridge terus bernyanyi di kepala Kallias, diiringi siulan angin yang menimang lautan. Karya yang indah, sungguh. Kelompok pelayar, pulang dari perjalanan dan dikutuk karena membunuh seekor burung sehingga terjebak di samudera. Kallias yakin tidak membunuh hewan apapun selain nyamuk, namun tidak ada tanda-tanda akan mendekati daratan dalam waktu dekat. Penglihatannya memang menangkap gundukan hijau dua hari yang lalu, namun sampai sekarang masih tidak terlihat bertambah besar ataupun kecil. Meskipun begitu, kompas Kallias terus mengatakan bahwa kapal kecilnya bergerak seperti biasa.


Air, air di mana-mana dan bahtera-bahtera tetap terbenam...


Ia menghempaskan diri ke dek kapal, memandangi cakrawala tak berawan di atasnya. Tuhan pasti membuat langit dan laut pada hari yang sama. Mencelup keduanya dengan warna biru yang tak bisa habis, untuk mengingatkan penduduk bumi bahwa mereka tidak ada apa-apanya. Duduk di sana misteri-misteri yang menunggu disingkap. Satwa, karang, juga kawanan manusia berekor ikan.


Ah, putri duyung. Kallias memejamkan mata sambil menaikkan salah sudut bibirnya. Segala versi dongeng tentang sosok elok itu sudah ia dengar dan semua berhasil membuatnya jatuh cinta. Dari bunga anggun pembawa mujur sampai jadi-jadian pencipta badai, adalah bidadari-bidadari ombak di mata Kallias. Malahan itu yang pertama kali membakar jiwanya tuk mengarungi gelombang, selain desakan orangtua yang jengah melihat Kallias menganggur. Dan sekarang ia terjebak jauh di arus tak berujung.


Tiba-tiba sejuknya udara tak lagi terasa. Leher Kallias menyalakan obornya dan melakukan ritual minta hujan. Dipukullah sebuah genderang yang bergetar sampai kepala, menghasilkan percikan-percikan panas yang tiba-tiba melewati mata. Kallias mengerang, namun tak ada suara yang keluar. Setelah mengumpulkan sisa energi, ia beranjak dibantu kotak kayu berbau amis dan melangkah menuju sisi lain kapalnya.


Entah sudah berapa puluh jam sejak mulutnya basah. Berhitung hanya membuat lutut Kallias kian lemah. Tangan kirinya meraih sebuah tas rotan dan mengguncangkannya perlahan-lahan. Botol-botol terhambur di atas kakinya, bersorak setelah bebas dari penjara panas. Jemari Kallias yang kini bergetar mengambil yang terdekat dan mendekatkan kepala plastik itu ke mulutnya. Tidak ada. Tidak ada sensasi segar. Tidak ada cipratan ajaib. Tidak ada yang menetes. Tidak ada yang turun. Tidak ada satupun. Tidakadatidakadatidakada... 


Air, air dimana-mana pun tak setitikpun untuk minum...


Oh, segara tidak pernah berkilau seindah sekarang. Tuan Ombak memanggil-manggil nama Kallias, diiringi lambaian dari pasukan buihnya. Tidak, tidak bisa disambut. Ia tahu bahwa mereka menyimpan meriam garam yang siap menembak kerongkongan Kallias, jebol sampai organ yang paling dalam. Tuan Ombak terus saja memanggil. Kallias memalingkan kepalanya. Pasukan buih mengajak salaman. Kallias memejamkan mata. Sinar mentari yang sedari tadi menonton dalam diam mulai bertepuk tangan. Kallias menutup telinga.


Namun telapak kanannya berbisik, “Satu titik api tak bisa menyulut meriam, kan?”


Seperti dikejar gelombang, Kallias menari lincah ke tepi kapal. Gerakan yang buru-buru membuat punggung tangannya tergores potongan kayu nan runcing, lurus sempurna sampai pangkal jari. Tak memperhatikan, Kallias tetap mengayunkan kedua tangan. Menyapa dalamnya lautan dan menyiduk air yang kini mengaliri lengan. Tegukan pertama menyerang lidahnya bak tsunami, turun sampai kerongkongan. Belum sampai semenit, keajaiban itu menghilang. Kering. Dentuman dari ritual bergetar semakin keras. Kallias berdecak. Ia butuh satu cidukan lagi.


Lagi, lagi, lagi. Sementara darah di tanganya terus menetes, hingga habis dijilat Sang Biru.


***


Kallias tidak bisa berhenti tertawa. Di langit, seekor Ningyo berdansa dengan Melusine berekor hijau. Putri-putri berekor dua dari Inggris sedang menggosipi Atargatis yang masih sibuk menangis. Ia juga menemukan kilauan Merrow di sebuah kerumunan rakyat Naranda, menceritakan pengalamannya menyihir pria-pria dungu. Kallias tertawa lebih keras. Makhluk-makhluk permai itu terus bermunculan, satu-persatu di antara awan.


Seingat Kallias, kakeknya pernah bilang bahwa lautan berwarna biru disebabkan oleh pantulan dari langit. Menurut ilmuwan itu omong kosong, tapi siapa tahu? Oh, oh, mungkin, justru sebaliknya: biru langitlah yang merupakan pantulan dari laut. Benar, itu menjelaskan kenapa dewi-dewi air sekarang ada di atas. Semua yang Kallias saksikan sebenarnya terjadi di bawah kapal megahnya!


Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang gersang namun berbinar. Dengan tenaga yang tersisa, diseret kakinya perlahan. Sekujur tubuhnya gemetaran. Pikir Kallias itu dorongan semangat, panggilan cinta dari yang sudah menanti dengan tabah. Aku datang! Aku datang sekarang! Ia berusaha teriak, tapi pita suaranya menolak bergerak. Tidak apa-apa, bibir Kallias masih bisa tersungging lebar.


Di bibir kapal, ia melongokkan kepalanya dan semakin jejeritan bahagia. Bayang-bayangan bersirip terlihat jelas berkumpul di dekatnya. Oh lihat, salah satu dari mereka menyeringai tidak sabar. Kallias langsung berjungkir balik kegirangan, membuat benturan keras di kepalanya tak terasa apa-apa. Ia disambut meriah dengan rangkulan dingin dan nyerinya mata. Samar-samar bisa ia lihat tatapan lapar dari kawanan gadis berwarna suram.


Salah satu dari mereka mendekatkan bibir ke bagian pinggang Kallias, lalu menciumnya dengan kencang. Gigi-gigi runcing menembus kulit dan dagingnya, melepaskan cairan merah yang mengundang putri-putri lainnya untuk merobek-robek Kallias yang masih tersenyum cerah.


Darah, darah di mana-mana!



Hati Bening Asy-Syahiidah
Juli 2021
----
apa hiu boleh dipelihara

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Most Popular