Flash Fiction: Kepada Pujangga dari Bulan, | Hati Bening Asy-Syahiidah
Juni 02, 2021
Selamat malam Tuan (saya cukup yakin di sana tidak ada siang),
Kemarin, dinginnya cuaca membuat saya terus terjaga. Jadi saya keluar dari istana dan mengeja kembali sampul karya Tuan yang dipakai untuk menambal atap bolong. Dibaca berulang kali dengan semua cara; dalam hati, bisik-bisik, lalu teriak sampai ganti diteriaki Nenek Sihir yang tinggal di puri sebelah.
Sisi sebelah kanan adalah bagian favorit saya, hurufnya lebih banyak meskipun tidak sepenuh kertas-kertasnya. Bahkan isi sisi itu sudah saya hapal di luar kepala; Si Putri sudah muak tinggal di menaranya dan ingin keluar untuk menjelajah dunia-dunia. Karena itu, dia terus berdoa dan meminta bantuan di langit untuk mengeluarkannya. Suatu hari, seekor kuda bersayap menghampiri jendela menara dan mengajak Si Putri mengembara. Bagaimanakah petualangan Si Putri? (Sumpah, saya menulis ini tanpa mencontoh)
Saya sedikit lupa apa yang terjadi dan bagaimana akhirnya, sebab lembaran-lembarannya sudah habis jadi abu biar Adik bisa tidur. Tapi tidak apa-apa, karena membayangkan apa yang Si Putri lakukan sangat menyenangkan. Setiap kali saya membacanya, bayangan yang muncul di kepala ini selalu berganti. Mungkin Si Putri berburu kertas atau makanan lembek berbau seperti yang saya dan Adik lakukan. Siapa tahu menginjak gunung dan meluncur di lembah plastik bisa menyenangkan jika dilakukan bersama kuda bersayap.
Tetapi sebaiknya jangan. Berburu bisa sangat tidak enak dan pastinya Si Putri akan meminta kuda bersayap untuk putar balik. Harus lekas berangkat dari fajar agar tidak kehabisan. Sering sekali melihat orang-orang berebut cairan yang tersisa di dalam wadah plastik panjang. Cari yang teliti, tapi jangan sampai terlalu jauh berburu karena pegunungan-pegunungan itu terus berubah dan bertambah. Bisa-bisa tidak menemukan jalan pulang seperti Ibu yang belum kembali sejak Adik baru bisa jalan.
Tidak apa-apa, kalau bukan karena ritual setiap hari tersebut saya tidak akan bisa mengeja. Kertas-kertas yang ditemukan selalu saya usahakan dibaca sampai habis sebelum matahari minggat lagi. Saya sering tidak mengerti isi kertas-kertas itu, meskipun sudah mencoba bertanya arti beberapa kata kepada Nenek Sihir (katanya, beliau orang paling pintar di sini meskipun galak). Karena itu rasanya senang sekali saat menemukan karya Tuan yang bisa dipahami dalam satu kali baca.
Akhir-akhir ini kertas jadi jarang sekali, padahal musim dingin sebentar lagi datang. Mungkin karena bergantinya musim itulah orang-orang jadi rajin berburu dan saya tidak kebagian. Halaman buku karangan Tuan terpaksa terus berkurang dan berkurang. Itupun masih luar biasa terasa dinginnya, hampir setiap malam jemari saya mati rasa dan bibir Adik biru-biru. Perih. Sakit. Tidak enak. Tapi tidak ada yang bisa kami lakukan.
Tuan, tolong angkat saya ke bulan, jauh dari bukit-bukit berbau ini. Saya akan membawa Adik, mungkin juga Ibu Peri di kastil sebelah yang sering membagi hasil buruannya pada kami (kalau beliau mau ikut). Seperti Putri yang tidak pernah memilih untuk tinggal di menara tidak menyenangkan, apakah kami juga bisa dibantu keluar untuk melihat bintang-bintang?
Dengan kasih dan hormat…
***
Sang Bocah memandang benda kecil abu-abu di jempolnya yang sekarang lebih kecil dari logam tipis yang sering menempel di wadah plastik. Sudah tidak mungkin bisa dipakai lagi, padahal dia belum menulis namanya.
“Apinya mati,” bisik Adik lirih.
Sang Bocah menoleh. Serpihan-serpihan gelap di sebelahnya tak lagi dihias warna merah. Tangannya buru-buru meraih batu di pojok dinding kardusnya sebelum udara dingin berhembus dan menerbangkan semua abu halus.
Suara Adik yang menggigil terdengar semakin keras. Sang Bocah sendiri mulai sadar bahwa sedari tadi kakinya gemetaran. Ia memilih untuk menekuk lutut dan memeluknya dengan kedua tangan seperti yang Adik lakukan.
“Habis?” tanya Adik di antara gemeretak giginya.
Sang Bocah melirik kertas yang baru saja ia selesai penuhi di dekat jari kakinya. Satu lembar kertas tidak mungkin cukup untuk malam yang tersisa. Ia menghela napas panjang yang tersendat kejutan tiupan angin dan meletakkan kertasnya di atas abu yang tersisa. Gesek batu sampai keluar percikan, lalu muncul kilauan terang di atas yang putih.
Udara di sekitarnya mulai menghangat. Mata adik sudah terpejam. Bersamaan dengan secarik asa Sang Bocah perlahan-lahan habis disantap api.

0 komentar