Namaku Bumi
September 14, 2020[Symphony No. 1: II. Andante by Sibelius start playing]
Namaku Bumi
Empat ribu lima ratus empat puluh miliar tahun yang lalu, Aku tercipta. Terbentuk melalui ledakan akresi dan nebula matahari. Aku sering bertabrakan dengan benda-benda angkasa lain, membuat setengah tubuhku meleleh kepanasan. Namun aku tidak merasa kesal menabrak-nabrak, karena akhirnya aku membuat teman bernama Bulan setelah menabrak Theia.
Saat itu, aku bisa mendingin dan menghangat semauku. Aku pernah menjadi bola super-panas, kemudian pernah juga menjadi bola yang penuh dengan air. Kemudian juga memunculkan kerak-kerak padat yang awalnya terbuat dari gunung-gunung api. Memang menyenangkan, namun lama kelamaan aku bosan juga. Akhirnya, saat usiaku satu setengah miliar tahun, rupanya Tuhan sudah memberikan kepercayaan kepadaku dengan memberi sesuatu yang hidup di dalam tubuhku. Aku merasa bangga sekali, planet lain pasti iri padaku.
Kemudian, makhluk hidup yang menumpang tinggal di tubuhku mulai menghasilkan oksigen di atmosfer dengan cara fotosintesis. Mereka sangat membantu meskipun bentuk mereka kecil-kecil dan mikroskopis. Setelah itu, tiba-tiba makhluk hidup berukuran besar atau multisel mulai lahir secara besar-besaran. Ikan-ikan, reptil, dan serangga, mereka seakan-akan memberiku kejutan. Peristiwa ini sering kusebut Ledakan Kambrium. Saat itu, aku sangat berharap makhluk-makhluk besar ini bisa membantuku seperti yang dilakukan makhluk mikroskopis sebelumnya. Namun, sayang sekali kebanyakan dari mereka tidak bisa bertahan terlalu lama karena kepunahan masal.
Tetapi tidak lama kemudian, mereka membuat perubahan terjadi secara cepat. Makhluk-makhluk hidup ini tidak berhenti berevolusi. Mereka berubah menjadi bentuk baru, atau bahkan punah untuk selamanya. Lempengan-lempengan kerak di tubuhku sering bergeser dan bertubrukan, menghasilkan getaran yang memusingkan. Getarannya bisa sangat kuat sehingga seringkali membentuk daratan dan lautan baru. Ah, kuharap makhluk multisel mudah beradaptasi.
Aku cukup senang dengan adanya mahluk-makhluk besar itu hidup di tubuhku. Mereka berperan besar dalam pembentukan lapisan ozon, pengulangan siklus oksigen, dan penciptaan tanah. Ratusan tahun aku hidup bersama mereka, mengamati perubahan-perubahan bentuk mahluk-makhluk itu dari masa ke masa. Aku melihat reptil-reptil besar di hutan lebat saat Era Mesozoikum, sampai primata-primata yang bermunculan pada Era Kenozoikum.
Ketika usiaku sudah cukup tua, aku merasa ada penghuni baru yang muncul. Aku merasa, mereka berbeda dari makhluk-makhluk sebelumnya yang tinggal. Mereka berkelompok, berburu, dan membangun banyak hal.
Pintar juga, mereka menanam benih-benih tanaman di pemukimannya alih-alih terus berpindah tempat untuk mencari tanaman baru. Mereka juga menciptakan banyak alat untuk berburu, tidak seperti hewan-hewan yang menggunakan tubuh mereka. Tunggu, kenapa mereka membunuh semua rusa di lapangan? Kukira beberapa ekor saja cukup untuk makan dua minggu.
Ini tidak benar, ekosistem tidak lagi seimbang. Mereka selalu mengambil sesuatu secara berlebihan, ini salah. Mereka berkembang secara cepat, populasi mereka banyak. Terlalu banyak. Kenapa tumbuhan itu disemprot zat berbahaya? Lihat, mereka mulai menciptakan banyak benda yang menghasilkan asap beracun. Oh astaga. Mereka merusak lapisan ozon yang kubuat bersama makhluk-makhluk selama berjuta-juta tahun. Ini salah. Lautku penuh dengan plastik, barang yang tetap akan ada setelah ratusan tahun.
Mereka juga sering menyerang satu sama lain. Apa yang terjadi? Kenapa semua orang menangis? Kenapa lautan diledakkan? Bagaimana jika ikan-ikan itu mati? Kenapa burung itu menjatuhkan sesuatu yang meledak ketika sampai di daratan? Ah bukan, itu bukan burung. Burung tidak jahat. Mereka membakar tubuhku, mereka membuang limbah kotor ke dalam airku. Ini salah. Mereka mengeruk, menebang, menghancurkan. Kenapa aku? Aku kan tempat tinggal mereka? Kenapa tumbuhan? Kenapa hewan? Jika tidak ada kami, mereka tidak akan bisa hidup.
Kukira Tuhan memberi mereka akal. Kenapa mereka tidak mempergunakannya dengan baik? Kenapa mereka merusak? Kenapa mereka mengambil semuanya secara berlebihan? Kenapa mereka lupa makhluk lain juga memiliki perasaan…
Aku terus bertanya-tanya, sampai akhirnya aku menemukan kata baru:
Keserakahan.
Mereka juga sering menyerang satu sama lain. Apa yang terjadi? Kenapa semua orang menangis? Kenapa lautan diledakkan? Bagaimana jika ikan-ikan itu mati? Kenapa burung itu menjatuhkan sesuatu yang meledak ketika sampai di daratan? Ah bukan, itu bukan burung. Burung tidak jahat. Mereka membakar tubuhku, mereka membuang limbah kotor ke dalam airku. Ini salah. Mereka mengeruk, menebang, menghancurkan. Kenapa aku? Aku kan tempat tinggal mereka? Kenapa tumbuhan? Kenapa hewan? Jika tidak ada kami, mereka tidak akan bisa hidup.
Kukira Tuhan memberi mereka akal. Kenapa mereka tidak mempergunakannya dengan baik? Kenapa mereka merusak? Kenapa mereka mengambil semuanya secara berlebihan? Kenapa mereka lupa makhluk lain juga memiliki perasaan…
Aku terus bertanya-tanya, sampai akhirnya aku menemukan kata baru:
Keserakahan.
Padahal mereka juga tamu, sama seperti makhluk lainnya, mereka bukan pemilikku. Tuhan memberikan akal kepada mereka, kupikir mereka malah bertugas untuk menjagaku, menjaga makhluk-makhluk lainnya, bukan merusak. Enak saja berlagak seperti pemilik tempat ini dan melakukan semuanya seenaknya sendiri, tanpa memikirkan makhluk lainnya.
Air dan udara, tumbuhan dan hewan, mungkin semua akan baik-baik saja tanpa mereka. Manusialah yang memerlukan, bahkan sebetulnya bergantung pada hal-hal tersebut. Tapi kenapa mereka malah merusaknya?
Aku sudah lelah, aku ingin beristirahat, aku kesakitan. Aku sudah memberikan beberapa tanda kesedihanku, kemarahanku, tapi mereka tidak mengerti dan malah saling menyerang satu sama lain. Mereka kira mereka sedang membangun dan berbuat hebat, padahal sebetulnya mereka hanya merusak. Kapan mereka mengerti?
Namaku Bumi, usiaku empat ribu lima ratus empat puluh tiga tahun dan aku bukan milikmu.
[Beautiful melody plays]
--------
Hati Bening Asy-Syahiidah
September 14th, 2020
Dua hari yang lalu, tiba-tiba nangis gara-gara liat Badak Sumatra di channel Nat Geo Wild. But the fact that I'm just sitting there and do nothing make me cry even more.
Jadi aku ngerasa harus ngelakuin sesuatu, even the smallest thing. So here it is.

0 komentar